Mayoritas masyarakat awam tidak mengetahui jenis material apa yang digunakan pada furniture yang mereka gunakan. Mereka hanya tahu bahwa furniture yang digunakan berbahan dasar kayu. Padahal dalam dunia interior khususnya furniture, banyak sekali jenis dan macam olahan kayu yang digunakan dalam pembuatan satu unit furniture. Pernahkah kamu perhatikan furniture disekitarmu seperti, TV cabinet, lemari, nakas, divan, dan lainnya? Beberapa furniture tersebut pasti menggunakan olahan kayu dengan jenis yang berbeda-beda.

Penggunaan bahan kayu lapis sekarang ini mulai dilirik masyarakat dibandingkan dengan kayu solid, di samping karena harganya yang lebih murah, juga karena modelnya yang minimalis, simple dan praktis. Tapi ternyata, dalam penggunaannya ada beberapa yang tahan di area basah (lembab) dan ada juga yang hanya bisa tahan di area kering. Area basah yang dimaksudkan adalah dapur, kamar mandi, ruang outdoor lainnya. Sedangkan area kering yaitu seperti ruang tamu, kamar tidur dan ruang indoor lainnya.

Untuk mengetahui material apa saja yang tahan di area basah dan kering, yuk lihat jenis dan karakteristiknya, sehingga kamu tidak salah dalam pemilihan dan penempatan furniture-mu nanti, yang akan mempengaruhi ketahanan dari umur furniture-mu.

1. Blockboard

Blockboard merupakan papan yang terbuat dari potongan balok kayu dengan lebar sekitar 2.5 – 5 cm yang dipadatkan dengan mesin dan diberi pelapis dikeduanya sehingga menjadi sebuah lembaran. Pemilihan kayu untuk membuat satu papan blockboard biasanya dari kayu lunak, seperti akasia dan meranti sehingga tidak sekuat plywood, dan harganya pun lebih murah dibandingkan plywood. Bentuknya yang solid, menyebabkan blockboard tidak bisa dilengkungkan.

Papan blockboard biasa digunakan untuk membuat ambalan (rak), kabinet ataupun kitchen set. Karena bahannya yang terbuat dari kayu solid papan ini cukup kuat dan tahan untuk di tempatkan di area lembab (basah).

2. Multipleks/Plywood

Plywood atau biasa dikenal dengan multipleks/tripleks dibentuk dari beberapa lembaran kayu yang direkatkan dengan tekanan tinggi hingga ketebalan standar yang sudah ditentukan. Plywood mempunyai permukaan polos dan tidak memiliki serat yang khas sehingga perlu diberi pelapis yang memiliki motif seperti Venner, Laminate ataupun Melaminto. Harga plywood ini lebih murah dari kayu solid tapi lebih mahal dibandingkan dengan olahan papan lainnya.

Kapasitas kekuatannya yang cukup tinggi dibanding jenis olahan kayu lainnya membuat plywood ini paling banyak dipakai sebagai material pembuat kitchen set, lemari, meja, dan tempat tidur. Selain itu bisa ditempatkan di area basah yang memiliki kelembaban yang tinggi seperti kamar mandi, untuk furniture kabinet wastafel.

3. Partikel

Particle board terbuat dari partikel sisa pekerjaan kayu seperti serbuk gergaji, potongan kayu kecil, serpihan kayu yang direkatkan dengan tekanan tinggi dan kemudian dikeringkan. Tekstur yang khas dari partikel board ini lebih kasar dan tidak beraturan, sehingga untuk menutupi permukaannya dipakai lapisan veneer atau laminate. Berhati – hati juga karena partikel board tidak bisa digabungkan memakai paku atau sekrup biasa. Sedangkan untuk harga particle board paling murah diantara kayu olahan lainnya.

Namun, jenis kayu olahan ini tergolong jenis kayu yang tidak tahan lama, dalam kurun waktu tertentu kayu partikel bisa berubah bentuk menjadi lengkung jika menahan beban terlalu berat. Musuh terbesarnya adalah air sehingga mempunyai keterbatasan dalam pemakaiannya. Jika bahan ini basah maka kekuatannya akan hilang.

4. MDF

MDF terbuat dari serbuk kayu halus sisa perkebunan ataupun bambu yang dicampur dengan bahan kimia resin kemudian direkatkan dan dipadatkan dengan suhu bertekanan tinggi. Penggunaan bahan utamanya, membuat MDF lebih ramah lingkungan. Kayu olahan ini pun sangat fleksibel sehingga mudah dibentuk, tetapi volumenya lebih berat dari Plywood dan particle board. Bahan MDF ini bisa kita jumpai pada furniture yang bersifat praktis dan biasa diproduksi masal oleh pabrik.

Sama halnya dengan partikel board, MDF merupakan material kayu olahan yang tidak tahan terhadap air dan daerah-daerah yang memiliki kelembapan tinggi.

Beberapa olahan kayu di atas memiliki ukuran yang seragam, yaitu 122 cm x 244 cm dengan ketebalan mulai dari 3 mm – 18 mm. Semua olahan kayu di atas juga terbantu dengan finishing yang digunakannya, selain untuk nilai estetika dari furniture itu sendiri juga untuk membuat furniture itu menambah ketahanan kayu itu dari faktor external seperti cuaca yang lembab, benturan dll.